Tausiyah Rukyat

Tawassul merupakan problematika yang sering kali menjadi problematika ummat. sering kali digunakan oleh ummat islam sebagai awal pembuka doa. apakah doa itu harus dengan tawassul ? ada sekelompok orang yang menganngap bahwa dalam doa tidak perlu dengan tawassul, dengan alasan ayat alqu'an yang berbunyi :

ud'uni Astajib lakum
" berdoalah kepadaku , maka aku akan mengabulkannya "

Bagaimana pendapat para ulama tentang tawassul dibahas dari segi ke ilmuan.
maka kajian " Mafahim Yajibu An Tusohhah (Pemahaman-Pemahaman yang wajib diluruskan)" yang ditulis oleh Prof. Dr. Al- Muhaddist As-sayyid Muhammad Alawy Almaliki Al-hasani perlu kita kaji agar kita tidak terjerumus pengkafiran dan pensyirikan terhadap ummat Islam yang lain yang dibahas olehmurid senior beliau

K.H. Muhammad Ihya' ulumiddin ( pengasuh Ma'had Nurul Haromain Pujon Malang )

semoga bermanfaat

Jalan-jalan kesesatan : Kajian Kitab Mafahim Yajibu An Tusohhah

Khutbah Abi

Bersama Sayyid Abbas Al Maliki

KH. M. Ihya' Ulumuddin bersama Sayyid Abbas Al-Maliki

Terlahir pada 10 Agustus 1952 di desa Parengan Maduran Lamongan, KH Ihya’ Ulumiddin setelah lulus SR pada tahun 1964 lalu melanjutkan pendidikan di pesantren Langitan dalam asuhan KH Abdul Hadi Zahid, seorang ulama kharismatik yang sangat terkenal dengan ke istiqamahan nya. Kurang lebih sepuluh tahun mondok di langitan dari tahun kemudian melanjutkan magang sekaligus belajar di YAPI Bangil yang dinahkodai oleh Habib Husen al Habsyi sebelum beliau berubah faham sebagai seorang penganut Syiah. Dari Habib Husen inilah KH M. Ihya’ Ulumiddin mengakui mengenal sesuatu yang dinamakan gerakan dakwah.

Dari persentuhan dengan Habib Husen ini pula, semangat mendalami ilmu dan memperjuangkan agama semakin membara dalam hati ustadz Ihya’ muda yang kala itu sudah mulai banyak dikenal sebagai seorang santri yang alim. Akhirnya sampailah pengembaraan ilmu di tanah haram Makkah yang pada gilirannya Allah mempertemukan beliau dengan guru murabbi Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki yang selalu beliau ceritakan segala tentangnya dalam kajian-kajian ilmu.

Setelah empat tahun berkhidmah dan belajar kepada Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki, Ustadz Ihya’ pun kembali pulang ke Indonesia pada tahun 1980. Meskipun sudah berada di Indonesia, tetapi hubungan antara murid dan guru ini terus berkesinambungan hingga saat ini, saat pesantren Abuya telah diasuh oleh As Sayyid Ahmad bin Muhammad al Maliki. Wujud dari hubungan ini salah satunya adalah hingga kini mayoritas santri Indonesia yang bermaksud untuk mondok di Rushaifah Makkah harus terlebih dulu berstatus sebagai santri Ma’had Nurul Haromain Ngroto Pujon Malang. Sebuah hubungan yang tiada akhir yang semoga diberkahi dan dilanggengkan oleh Allah.

Merintis Dakwah

“Setinggi apapun ilmu yang engkau capai, tetapi jika telah memasuki dunia dakwah maka kamu harus memulainya lagi dari paling bawah”, ini adalah ungkapan yang sering disampaikan Abi, sapaan akrab KH Ihya’ Ulumiddin. Hal ini terkait dengan pengalaman pribadi ketika mulai merintis dakwah di rumah mertua di Keputran Kejambon Surabaya Jatim. Saat itu, Abi mengetik dan memfotocopykan sendiri tarjamah kitab fiqih paling dasar Sullam Safinah untuk kemudian diajarkan kepada para ibu di sekitar rumah. Jika dalam pepatah dikatakan sebaik-baik apapun bangkai ditutupi, toh baunya tercium juga. Sebaik apapun ditutupi, kejahatan pasti terbongkar. Sebaliknya juga demikian, kebaikan tidak perlu dipasarkan, diberitakan dan ditonjolkan karena manusia pasti tidak akan mampu menutup mata dari kebaikan. Becik ketitik olo ketoro, baik pasti terlihat, buruk pasti tersingkap. Allah azza wajalla dalam firmanNya juga memerintahkan; “Dan Katakanlah: "Beramallah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”QS At Taubah:105. “...tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…”QS al fath:29.

Demikianlah, meski hanya bermula dari dakwah di gang sempit di sebuah mushalla 3x4 dan selama dua tahun penuh hanya ada seorang santri bernama Ridhwan Yasin yang kini menjadi da’i penceramah dengan jam terbang sangat padat, nama Ustadz Ihya’ mulai dikenal oleh kalangan mahasiswa. Perlahan-lahan pada era 80-an itulah Ustadz Ihya’ kemudian menjadi salah seorang pioneer dakwah di kampus-kampus negeri di surabaya dan malang. Pada awal-awal kemunculan HTI, Beliau diangkat menjadi salah seorang guru pembina bersama Ustadz Abdurrahman al Baghdadi, perintis HTI. Dakwah di kampus inilah cikal bakal yang kemudian melatarbelakangi berdirinya Yayasan al Haromain yang sekarang berpusat di Ketintang Barat Gang II. Para mahasiswa-mahasiswi, ikhwan akhowat yang dulu pernah mengaji kepada Abi dan sekarang telah tersebar di banyak kota dan bahkan negara sampai kini masih banyak pula yang terikat dan terhubung dengan Abi, dengan dakwah JDA (Jamaah Dakwah al Haromain). Keterikatan dan hubungan terasa semakin dekat ketika kajian-kajian Abi yang berpusat di pesantren Nurul Haromain dan Ketintang bisa diakses secara live lewat sebuah TV internet al Muttaqin. TV yang berpusat di Malaysia. Intensitas dakwah yang begitu padat dan hubungan yang akrab dengan kalangan kampus ini merupakan satu hal yang membedakan Abi Ihya’ dengan Ustadz dan para kiai lain ketika itu yang rata-rata menjadikan pesantren sebagai basis utama untuk merintis dakwah.

KH. M. Ihya' Ulumuddin bersama Sayyid Abbas Al-Maliki

Terlahir pada 10 Agustus 1952 di desa Parengan Maduran Lamongan, KH Ihya’ Ulumiddin setelah lulus SR pada tahun 1964 lalu melanjutkan pendidikan di pesantren Langitan dalam asuhan KH Abdul Hadi Zahid, seorang ulama kharismatik yang sangat terkenal dengan ke istiqamahan nya. Kurang lebih sepuluh tahun mondok di langitan dari tahun kemudian melanjutkan magang sekaligus belajar di YAPI Bangil yang dinahkodai oleh Habib Husen al Habsyi sebelum beliau berubah faham sebagai seorang penganut Syiah. Dari Habib Husen inilah KH M. Ihya’ Ulumiddin mengakui mengenal sesuatu yang dinamakan gerakan dakwah.

Dari persentuhan dengan Habib Husen ini pula, semangat mendalami ilmu dan memperjuangkan agama semakin membara dalam hati ustadz Ihya’ muda yang kala itu sudah mulai banyak dikenal sebagai seorang santri yang alim. Akhirnya sampailah pengembaraan ilmu di tanah haram Makkah yang pada gilirannya Allah mempertemukan beliau dengan guru murabbi Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki yang selalu beliau ceritakan segala tentangnya dalam kajian-kajian ilmu.

Setelah empat tahun berkhidmah dan belajar kepada Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki, Ustadz Ihya’ pun kembali pulang ke Indonesia pada tahun 1980. Meskipun sudah berada di Indonesia, tetapi hubungan antara murid dan guru ini terus berkesinambungan hingga saat ini, saat pesantren Abuya telah diasuh oleh As Sayyid Ahmad bin Muhammad al Maliki. Wujud dari hubungan ini salah satunya adalah hingga kini mayoritas santri Indonesia yang bermaksud untuk mondok di Rushaifah Makkah harus terlebih dulu berstatus sebagai santri Ma’had Nurul Haromain Ngroto Pujon Malang. Sebuah hubungan yang tiada akhir yang semoga diberkahi dan dilanggengkan oleh Allah.

Merintis Dakwah

“Setinggi apapun ilmu yang engkau capai, tetapi jika telah memasuki dunia dakwah maka kamu harus memulainya lagi dari paling bawah”, ini adalah ungkapan yang sering disampaikan Abi, sapaan akrab KH Ihya’ Ulumiddin. Hal ini terkait dengan pengalaman pribadi ketika mulai merintis dakwah di rumah mertua di Keputran Kejambon Surabaya Jatim. Saat itu, Abi mengetik dan memfotocopykan sendiri tarjamah kitab fiqih paling dasar Sullam Safinah untuk kemudian diajarkan kepada para ibu di sekitar rumah. Jika dalam pepatah dikatakan sebaik-baik apapun bangkai ditutupi, toh baunya tercium juga. Sebaik apapun ditutupi, kejahatan pasti terbongkar. Sebaliknya juga demikian, kebaikan tidak perlu dipasarkan, diberitakan dan ditonjolkan karena manusia pasti tidak akan mampu menutup mata dari kebaikan. Becik ketitik olo ketoro, baik pasti terlihat, buruk pasti tersingkap. Allah azza wajalla dalam firmanNya juga memerintahkan; “Dan Katakanlah: "Beramallah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”QS At Taubah:105. “...tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…”QS al fath:29.

Demikianlah, meski hanya bermula dari dakwah di gang sempit di sebuah mushalla 3x4 dan selama dua tahun penuh hanya ada seorang santri bernama Ridhwan Yasin yang kini menjadi da’i penceramah dengan jam terbang sangat padat, nama Ustadz Ihya’ mulai dikenal oleh kalangan mahasiswa. Perlahan-lahan pada era 80-an itulah Ustadz Ihya’ kemudian menjadi salah seorang pioneer dakwah di kampus-kampus negeri di surabaya dan malang. Pada awal-awal kemunculan HTI, Beliau diangkat menjadi salah seorang guru pembina bersama Ustadz Abdurrahman al Baghdadi, perintis HTI. Dakwah di kampus inilah cikal bakal yang kemudian melatarbelakangi berdirinya Yayasan al Haromain yang sekarang berpusat di Ketintang Barat Gang II. Para mahasiswa-mahasiswi, ikhwan akhowat yang dulu pernah mengaji kepada Abi dan sekarang telah tersebar di banyak kota dan bahkan negara sampai kini masih banyak pula yang terikat dan terhubung dengan Abi, dengan dakwah JDA (Jamaah Dakwah al Haromain). Keterikatan dan hubungan terasa semakin dekat ketika kajian-kajian Abi yang berpusat di pesantren Nurul Haromain dan Ketintang bisa diakses secara live lewat sebuah TV internet al Muttaqin. TV yang berpusat di Malaysia. Intensitas dakwah yang begitu padat dan hubungan yang akrab dengan kalangan kampus ini merupakan satu hal yang membedakan Abi Ihya’ dengan Ustadz dan para kiai lain ketika itu yang rata-rata menjadikan pesantren sebagai basis utama untuk merintis dakwah.

KH. M. Ihya' Ulumuddin bersama Sayyid Abbas Al-Maliki

Terlahir pada 10 Agustus 1952 di desa Parengan Maduran Lamongan, KH Ihya’ Ulumiddin setelah lulus SR pada tahun 1964 lalu melanjutkan pendidikan di pesantren Langitan dalam asuhan KH Abdul Hadi Zahid, seorang ulama kharismatik yang sangat terkenal dengan ke istiqamahan nya. Kurang lebih sepuluh tahun mondok di langitan dari tahun kemudian melanjutkan magang sekaligus belajar di YAPI Bangil yang dinahkodai oleh Habib Husen al Habsyi sebelum beliau berubah faham sebagai seorang penganut Syiah. Dari Habib Husen inilah KH M. Ihya’ Ulumiddin mengakui mengenal sesuatu yang dinamakan gerakan dakwah.

Dari persentuhan dengan Habib Husen ini pula, semangat mendalami ilmu dan memperjuangkan agama semakin membara dalam hati ustadz Ihya’ muda yang kala itu sudah mulai banyak dikenal sebagai seorang santri yang alim. Akhirnya sampailah pengembaraan ilmu di tanah haram Makkah yang pada gilirannya Allah mempertemukan beliau dengan guru murabbi Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki yang selalu beliau ceritakan segala tentangnya dalam kajian-kajian ilmu.

Setelah empat tahun berkhidmah dan belajar kepada Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki, Ustadz Ihya’ pun kembali pulang ke Indonesia pada tahun 1980. Meskipun sudah berada di Indonesia, tetapi hubungan antara murid dan guru ini terus berkesinambungan hingga saat ini, saat pesantren Abuya telah diasuh oleh As Sayyid Ahmad bin Muhammad al Maliki. Wujud dari hubungan ini salah satunya adalah hingga kini mayoritas santri Indonesia yang bermaksud untuk mondok di Rushaifah Makkah harus terlebih dulu berstatus sebagai santri Ma’had Nurul Haromain Ngroto Pujon Malang. Sebuah hubungan yang tiada akhir yang semoga diberkahi dan dilanggengkan oleh Allah.

Merintis Dakwah

“Setinggi apapun ilmu yang engkau capai, tetapi jika telah memasuki dunia dakwah maka kamu harus memulainya lagi dari paling bawah”, ini adalah ungkapan yang sering disampaikan Abi, sapaan akrab KH Ihya’ Ulumiddin. Hal ini terkait dengan pengalaman pribadi ketika mulai merintis dakwah di rumah mertua di Keputran Kejambon Surabaya Jatim. Saat itu, Abi mengetik dan memfotocopykan sendiri tarjamah kitab fiqih paling dasar Sullam Safinah untuk kemudian diajarkan kepada para ibu di sekitar rumah. Jika dalam pepatah dikatakan sebaik-baik apapun bangkai ditutupi, toh baunya tercium juga. Sebaik apapun ditutupi, kejahatan pasti terbongkar. Sebaliknya juga demikian, kebaikan tidak perlu dipasarkan, diberitakan dan ditonjolkan karena manusia pasti tidak akan mampu menutup mata dari kebaikan. Becik ketitik olo ketoro, baik pasti terlihat, buruk pasti tersingkap. Allah azza wajalla dalam firmanNya juga memerintahkan; “Dan Katakanlah: "Beramallah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”QS At Taubah:105. “...tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…”QS al fath:29.

Demikianlah, meski hanya bermula dari dakwah di gang sempit di sebuah mushalla 3x4 dan selama dua tahun penuh hanya ada seorang santri bernama Ridhwan Yasin yang kini menjadi da’i penceramah dengan jam terbang sangat padat, nama Ustadz Ihya’ mulai dikenal oleh kalangan mahasiswa. Perlahan-lahan pada era 80-an itulah Ustadz Ihya’ kemudian menjadi salah seorang pioneer dakwah di kampus-kampus negeri di surabaya dan malang. Pada awal-awal kemunculan HTI, Beliau diangkat menjadi salah seorang guru pembina bersama Ustadz Abdurrahman al Baghdadi, perintis HTI. Dakwah di kampus inilah cikal bakal yang kemudian melatarbelakangi berdirinya Yayasan al Haromain yang sekarang berpusat di Ketintang Barat Gang II. Para mahasiswa-mahasiswi, ikhwan akhowat yang dulu pernah mengaji kepada Abi dan sekarang telah tersebar di banyak kota dan bahkan negara sampai kini masih banyak pula yang terikat dan terhubung dengan Abi, dengan dakwah JDA (Jamaah Dakwah al Haromain). Keterikatan dan hubungan terasa semakin dekat ketika kajian-kajian Abi yang berpusat di pesantren Nurul Haromain dan Ketintang bisa diakses secara live lewat sebuah TV internet al Muttaqin. TV yang berpusat di Malaysia. Intensitas dakwah yang begitu padat dan hubungan yang akrab dengan kalangan kampus ini merupakan satu hal yang membedakan Abi Ihya’ dengan Ustadz dan para kiai lain ketika itu yang rata-rata menjadikan pesantren sebagai basis utama untuk merintis dakwah.

KH. M. Ihya' Ulumuddin bersama Sayyid Abbas Al-Maliki

KH. M. Ihya' Ulumuddin bersama Sayyid Abbas Al-Maliki Terlahir pada 10 Agustus 1952 di desa Parengan Maduran Lamongan, KH Ihya’ Ulumiddin setelah lulus SR pada tahun 1964 lalu melanjutkan pendidikan di pesantren Langitan dalam asuhan KH Abdul Hadi Zahid, seorang ulama kharismatik yang sangat terkenal dengan ke istiqamahan nya. Kurang lebih sepuluh tahun mondok di langitan dari tahun kemudian melanjutkan magang sekaligus belajar di YAPI Bangil yang dinahkodai oleh Habib Husen al Habsyi sebelum beliau berubah faham sebagai seorang penganut Syiah. Dari Habib Husen inilah KH M. Ihya’ Ulumiddin mengakui mengenal sesuatu yang dinamakan gerakan dakwah.

Dari persentuhan dengan Habib Husen ini pula, semangat mendalami ilmu dan memperjuangkan agama semakin membara dalam hati ustadz Ihya’ muda yang kala itu sudah mulai banyak dikenal sebagai seorang santri yang alim. Akhirnya sampailah pengembaraan ilmu di tanah haram Makkah yang pada gilirannya Allah mempertemukan beliau dengan guru murabbi Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki yang selalu beliau ceritakan segala tentangnya dalam kajian-kajian ilmu.

Setelah empat tahun berkhidmah dan belajar kepada Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki, Ustadz Ihya’ pun kembali pulang ke Indonesia pada tahun 1980. Meskipun sudah berada di Indonesia, tetapi hubungan antara murid dan guru ini terus berkesinambungan hingga saat ini, saat pesantren Abuya telah diasuh oleh As Sayyid Ahmad bin Muhammad al Maliki. Wujud dari hubungan ini salah satunya adalah hingga kini mayoritas santri Indonesia yang bermaksud untuk mondok di Rushaifah Makkah harus terlebih dulu berstatus sebagai santri Ma’had Nurul Haromain Ngroto Pujon Malang. Sebuah hubungan yang tiada akhir yang semoga diberkahi dan dilanggengkan oleh Allah.

Merintis Dakwah

“Setinggi apapun ilmu yang engkau capai, tetapi jika telah memasuki dunia dakwah maka kamu harus memulainya lagi dari paling bawah”, ini adalah ungkapan yang sering disampaikan Abi, sapaan akrab KH Ihya’ Ulumiddin. Hal ini terkait dengan pengalaman pribadi ketika mulai merintis dakwah di rumah mertua di Keputran Kejambon Surabaya Jatim. Saat itu, Abi mengetik dan memfotocopykan sendiri tarjamah kitab fiqih paling dasar Sullam Safinah untuk kemudian diajarkan kepada para ibu di sekitar rumah. Jika dalam pepatah dikatakan sebaik-baik apapun bangkai ditutupi, toh baunya tercium juga. Sebaik apapun ditutupi, kejahatan pasti terbongkar. Sebaliknya juga demikian, kebaikan tidak perlu dipasarkan, diberitakan dan ditonjolkan karena manusia pasti tidak akan mampu menutup mata dari kebaikan. Becik ketitik olo ketoro, baik pasti terlihat, buruk pasti tersingkap. Allah azza wajalla dalam firmanNya juga memerintahkan; “Dan Katakanlah: "Beramallah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”QS At Taubah:105. “...tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…”QS al fath:29.

Demikianlah, meski hanya bermula dari dakwah di gang sempit di sebuah mushalla 3x4 dan selama dua tahun penuh hanya ada seorang santri bernama Ridhwan Yasin yang kini menjadi da’i penceramah dengan jam terbang sangat padat, nama Ustadz Ihya’ mulai dikenal oleh kalangan mahasiswa. Perlahan-lahan pada era 80-an itulah Ustadz Ihya’ kemudian menjadi salah seorang pioneer dakwah di kampus-kampus negeri di surabaya dan malang. Pada awal-awal kemunculan HTI, Beliau diangkat menjadi salah seorang guru pembina bersama Ustadz Abdurrahman al Baghdadi, perintis HTI. Dakwah di kampus inilah cikal bakal yang kemudian melatarbelakangi berdirinya Yayasan al Haromain yang sekarang berpusat di Ketintang Barat Gang II. Para mahasiswa-mahasiswi, ikhwan akhowat yang dulu pernah mengaji kepada Abi dan sekarang telah tersebar di banyak kota dan bahkan negara sampai kini masih banyak pula yang terikat dan terhubung dengan Abi, dengan dakwah JDA (Jamaah Dakwah al Haromain). Keterikatan dan hubungan terasa semakin dekat ketika kajian-kajian Abi yang berpusat di pesantren Nurul Haromain dan Ketintang bisa diakses secara live lewat sebuah TV internet al Muttaqin. TV yang berpusat di Malaysia. Intensitas dakwah yang begitu padat dan hubungan yang akrab dengan kalangan kampus ini merupakan satu hal yang membedakan Abi Ihya’ dengan Ustadz dan para kiai lain ketika itu yang rata-rata menjadikan pesantren sebagai basis utama untuk merintis dakwah.

KH. M. Ihya' Ulumuddin bersama Sayyid Abbas Al-Maliki

Terlahir pada 10 Agustus 1952 di desa Parengan Maduran Lamongan, KH Ihya’ Ulumiddin setelah lulus SR pada tahun 1964 lalu melanjutkan pendidikan di pesantren Langitan dalam asuhan KH Abdul Hadi Zahid, seorang ulama kharismatik yang sangat terkenal dengan ke istiqamahan nya. Kurang lebih sepuluh tahun mondok di langitan dari tahun kemudian melanjutkan magang sekaligus belajar di YAPI Bangil yang dinahkodai oleh Habib Husen al Habsyi sebelum beliau berubah faham sebagai seorang penganut Syiah. Dari Habib Husen inilah KH M. Ihya’ Ulumiddin mengakui mengenal sesuatu yang dinamakan gerakan dakwah.

Dari persentuhan dengan Habib Husen ini pula, semangat mendalami ilmu dan memperjuangkan agama semakin membara dalam hati ustadz Ihya’ muda yang kala itu sudah mulai banyak dikenal sebagai seorang santri yang alim. Akhirnya sampailah pengembaraan ilmu di tanah haram Makkah yang pada gilirannya Allah mempertemukan beliau dengan guru murabbi Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki yang selalu beliau ceritakan segala tentangnya dalam kajian-kajian ilmu.

Setelah empat tahun berkhidmah dan belajar kepada Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki, Ustadz Ihya’ pun kembali pulang ke Indonesia pada tahun 1980. Meskipun sudah berada di Indonesia, tetapi hubungan antara murid dan guru ini terus berkesinambungan hingga saat ini, saat pesantren Abuya telah diasuh oleh As Sayyid Ahmad bin Muhammad al Maliki. Wujud dari hubungan ini salah satunya adalah hingga kini mayoritas santri Indonesia yang bermaksud untuk mondok di Rushaifah Makkah harus terlebih dulu berstatus sebagai santri Ma’had Nurul Haromain Ngroto Pujon Malang. Sebuah hubungan yang tiada akhir yang semoga diberkahi dan dilanggengkan oleh Allah.

Merintis Dakwah

“Setinggi apapun ilmu yang engkau capai, tetapi jika telah memasuki dunia dakwah maka kamu harus memulainya lagi dari paling bawah”, ini adalah ungkapan yang sering disampaikan Abi, sapaan akrab KH Ihya’ Ulumiddin. Hal ini terkait dengan pengalaman pribadi ketika mulai merintis dakwah di rumah mertua di Keputran Kejambon Surabaya Jatim. Saat itu, Abi mengetik dan memfotocopykan sendiri tarjamah kitab fiqih paling dasar Sullam Safinah untuk kemudian diajarkan kepada para ibu di sekitar rumah. Jika dalam pepatah dikatakan sebaik-baik apapun bangkai ditutupi, toh baunya tercium juga. Sebaik apapun ditutupi, kejahatan pasti terbongkar. Sebaliknya juga demikian, kebaikan tidak perlu dipasarkan, diberitakan dan ditonjolkan karena manusia pasti tidak akan mampu menutup mata dari kebaikan. Becik ketitik olo ketoro, baik pasti terlihat, buruk pasti tersingkap. Allah azza wajalla dalam firmanNya juga memerintahkan; “Dan Katakanlah: "Beramallah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”QS At Taubah:105. “...tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…”QS al fath:29.

Demikianlah, meski hanya bermula dari dakwah di gang sempit di sebuah mushalla 3x4 dan selama dua tahun penuh hanya ada seorang santri bernama Ridhwan Yasin yang kini menjadi da’i penceramah dengan jam terbang sangat padat, nama Ustadz Ihya’ mulai dikenal oleh kalangan mahasiswa. Perlahan-lahan pada era 80-an itulah Ustadz Ihya’ kemudian menjadi salah seorang pioneer dakwah di kampus-kampus negeri di surabaya dan malang. Pada awal-awal kemunculan HTI, Beliau diangkat menjadi salah seorang guru pembina bersama Ustadz Abdurrahman al Baghdadi, perintis HTI. Dakwah di kampus inilah cikal bakal yang kemudian melatarbelakangi berdirinya Yayasan al Haromain yang sekarang berpusat di Ketintang Barat Gang II. Para mahasiswa-mahasiswi, ikhwan akhowat yang dulu pernah mengaji kepada Abi dan sekarang telah tersebar di banyak kota dan bahkan negara sampai kini masih banyak pula yang terikat dan terhubung dengan Abi, dengan dakwah JDA (Jamaah Dakwah al Haromain). Keterikatan dan hubungan terasa semakin dekat ketika kajian-kajian Abi yang berpusat di pesantren Nurul Haromain dan Ketintang bisa diakses secara live lewat sebuah TV internet al Muttaqin. TV yang berpusat di Malaysia. Intensitas dakwah yang begitu padat dan hubungan yang akrab dengan kalangan kampus ini merupakan satu hal yang membedakan Abi Ihya’ dengan Ustadz dan para kiai lain ketika itu yang rata-rata menjadikan pesantren sebagai basis utama untuk merintis dakwah.

KH. M. Ihya' Ulumuddin bersama Sayyid Abbas Al-Maliki

Terlahir pada 10 Agustus 1952 di desa Parengan Maduran Lamongan, KH Ihya’ Ulumiddin setelah lulus SR pada tahun 1964 lalu melanjutkan pendidikan di pesantren Langitan dalam asuhan KH Abdul Hadi Zahid, seorang ulama kharismatik yang sangat terkenal dengan ke istiqamahan nya. Kurang lebih sepuluh tahun mondok di langitan dari tahun kemudian melanjutkan magang sekaligus belajar di YAPI Bangil yang dinahkodai oleh Habib Husen al Habsyi sebelum beliau berubah faham sebagai seorang penganut Syiah. Dari Habib Husen inilah KH M. Ihya’ Ulumiddin mengakui mengenal sesuatu yang dinamakan gerakan dakwah.

Dari persentuhan dengan Habib Husen ini pula, semangat mendalami ilmu dan memperjuangkan agama semakin membara dalam hati ustadz Ihya’ muda yang kala itu sudah mulai banyak dikenal sebagai seorang santri yang alim. Akhirnya sampailah pengembaraan ilmu di tanah haram Makkah yang pada gilirannya Allah mempertemukan beliau dengan guru murabbi Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki yang selalu beliau ceritakan segala tentangnya dalam kajian-kajian ilmu.

Setelah empat tahun berkhidmah dan belajar kepada Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki, Ustadz Ihya’ pun kembali pulang ke Indonesia pada tahun 1980. Meskipun sudah berada di Indonesia, tetapi hubungan antara murid dan guru ini terus berkesinambungan hingga saat ini, saat pesantren Abuya telah diasuh oleh As Sayyid Ahmad bin Muhammad al Maliki. Wujud dari hubungan ini salah satunya adalah hingga kini mayoritas santri Indonesia yang bermaksud untuk mondok di Rushaifah Makkah harus terlebih dulu berstatus sebagai santri Ma’had Nurul Haromain Ngroto Pujon Malang. Sebuah hubungan yang tiada akhir yang semoga diberkahi dan dilanggengkan oleh Allah.

Merintis Dakwah

“Setinggi apapun ilmu yang engkau capai, tetapi jika telah memasuki dunia dakwah maka kamu harus memulainya lagi dari paling bawah”, ini adalah ungkapan yang sering disampaikan Abi, sapaan akrab KH Ihya’ Ulumiddin. Hal ini terkait dengan pengalaman pribadi ketika mulai merintis dakwah di rumah mertua di Keputran Kejambon Surabaya Jatim. Saat itu, Abi mengetik dan memfotocopykan sendiri tarjamah kitab fiqih paling dasar Sullam Safinah untuk kemudian diajarkan kepada para ibu di sekitar rumah. Jika dalam pepatah dikatakan sebaik-baik apapun bangkai ditutupi, toh baunya tercium juga. Sebaik apapun ditutupi, kejahatan pasti terbongkar. Sebaliknya juga demikian, kebaikan tidak perlu dipasarkan, diberitakan dan ditonjolkan karena manusia pasti tidak akan mampu menutup mata dari kebaikan. Becik ketitik olo ketoro, baik pasti terlihat, buruk pasti tersingkap. Allah azza wajalla dalam firmanNya juga memerintahkan; “Dan Katakanlah: "Beramallah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”QS At Taubah:105. “...tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…”QS al fath:29.

Demikianlah, meski hanya bermula dari dakwah di gang sempit di sebuah mushalla 3x4 dan selama dua tahun penuh hanya ada seorang santri bernama Ridhwan Yasin yang kini menjadi da’i penceramah dengan jam terbang sangat padat, nama Ustadz Ihya’ mulai dikenal oleh kalangan mahasiswa. Perlahan-lahan pada era 80-an itulah Ustadz Ihya’ kemudian menjadi salah seorang pioneer dakwah di kampus-kampus negeri di surabaya dan malang. Pada awal-awal kemunculan HTI, Beliau diangkat menjadi salah seorang guru pembina bersama Ustadz Abdurrahman al Baghdadi, perintis HTI. Dakwah di kampus inilah cikal bakal yang kemudian melatarbelakangi berdirinya Yayasan al Haromain yang sekarang berpusat di Ketintang Barat Gang II. Para mahasiswa-mahasiswi, ikhwan akhowat yang dulu pernah mengaji kepada Abi dan sekarang telah tersebar di banyak kota dan bahkan negara sampai kini masih banyak pula yang terikat dan terhubung dengan Abi, dengan dakwah JDA (Jamaah Dakwah al Haromain). Keterikatan dan hubungan terasa semakin dekat ketika kajian-kajian Abi yang berpusat di pesantren Nurul Haromain dan Ketintang bisa diakses secara live lewat sebuah TV internet al Muttaqin. TV yang berpusat di Malaysia. Intensitas dakwah yang begitu padat dan hubungan yang akrab dengan kalangan kampus ini merupakan satu hal yang membedakan Abi Ihya’ dengan Ustadz dan para kiai lain ketika itu yang rata-rata menjadikan pesantren sebagai basis utama untuk merintis dakwah.

KH. M. Ihya' Ulumuddin bersama Sayyid Abbas Al-Maliki

Terlahir pada 10 Agustus 1952 di desa Parengan Maduran Lamongan, KH Ihya’ Ulumiddin setelah lulus SR pada tahun 1964 lalu melanjutkan pendidikan di pesantren Langitan dalam asuhan KH Abdul Hadi Zahid, seorang ulama kharismatik yang sangat terkenal dengan ke istiqamahan nya. Kurang lebih sepuluh tahun mondok di langitan dari tahun kemudian melanjutkan magang sekaligus belajar di YAPI Bangil yang dinahkodai oleh Habib Husen al Habsyi sebelum beliau berubah faham sebagai seorang penganut Syiah. Dari Habib Husen inilah KH M. Ihya’ Ulumiddin mengakui mengenal sesuatu yang dinamakan gerakan dakwah.

Dari persentuhan dengan Habib Husen ini pula, semangat mendalami ilmu dan memperjuangkan agama semakin membara dalam hati ustadz Ihya’ muda yang kala itu sudah mulai banyak dikenal sebagai seorang santri yang alim. Akhirnya sampailah pengembaraan ilmu di tanah haram Makkah yang pada gilirannya Allah mempertemukan beliau dengan guru murabbi Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki yang selalu beliau ceritakan segala tentangnya dalam kajian-kajian ilmu.

Setelah empat tahun berkhidmah dan belajar kepada Abuya As Sayyid Muhammad al Maliki, Ustadz Ihya’ pun kembali pulang ke Indonesia pada tahun 1980. Meskipun sudah berada di Indonesia, tetapi hubungan antara murid dan guru ini terus berkesinambungan hingga saat ini, saat pesantren Abuya telah diasuh oleh As Sayyid Ahmad bin Muhammad al Maliki. Wujud dari hubungan ini salah satunya adalah hingga kini mayoritas santri Indonesia yang bermaksud untuk mondok di Rushaifah Makkah harus terlebih dulu berstatus sebagai santri Ma’had Nurul Haromain Ngroto Pujon Malang. Sebuah hubungan yang tiada akhir yang semoga diberkahi dan dilanggengkan oleh Allah.

Merintis Dakwah

“Setinggi apapun ilmu yang engkau capai, tetapi jika telah memasuki dunia dakwah maka kamu harus memulainya lagi dari paling bawah”, ini adalah ungkapan yang sering disampaikan Abi, sapaan akrab KH Ihya’ Ulumiddin. Hal ini terkait dengan pengalaman pribadi ketika mulai merintis dakwah di rumah mertua di Keputran Kejambon Surabaya Jatim. Saat itu, Abi mengetik dan memfotocopykan sendiri tarjamah kitab fiqih paling dasar Sullam Safinah untuk kemudian diajarkan kepada para ibu di sekitar rumah. Jika dalam pepatah dikatakan sebaik-baik apapun bangkai ditutupi, toh baunya tercium juga. Sebaik apapun ditutupi, kejahatan pasti terbongkar. Sebaliknya juga demikian, kebaikan tidak perlu dipasarkan, diberitakan dan ditonjolkan karena manusia pasti tidak akan mampu menutup mata dari kebaikan. Becik ketitik olo ketoro, baik pasti terlihat, buruk pasti tersingkap. Allah azza wajalla dalam firmanNya juga memerintahkan; “Dan Katakanlah: "Beramallah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”QS At Taubah:105. “...tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…”QS al fath:29.

Demikianlah, meski hanya bermula dari dakwah di gang sempit di sebuah mushalla 3x4 dan selama dua tahun penuh hanya ada seorang santri bernama Ridhwan Yasin yang kini menjadi da’i penceramah dengan jam terbang sangat padat, nama Ustadz Ihya’ mulai dikenal oleh kalangan mahasiswa. Perlahan-lahan pada era 80-an itulah Ustadz Ihya’ kemudian menjadi salah seorang pioneer dakwah di kampus-kampus negeri di surabaya dan malang. Pada awal-awal kemunculan HTI, Beliau diangkat menjadi salah seorang guru pembina bersama Ustadz Abdurrahman al Baghdadi, perintis HTI. Dakwah di kampus inilah cikal bakal yang kemudian melatarbelakangi berdirinya Yayasan al Haromain yang sekarang berpusat di Ketintang Barat Gang II. Para mahasiswa-mahasiswi, ikhwan akhowat yang dulu pernah mengaji kepada Abi dan sekarang telah tersebar di banyak kota dan bahkan negara sampai kini masih banyak pula yang terikat dan terhubung dengan Abi, dengan dakwah JDA (Jamaah Dakwah al Haromain). Keterikatan dan hubungan terasa semakin dekat ketika kajian-kajian Abi yang berpusat di pesantren Nurul Haromain dan Ketintang bisa diakses secara live lewat sebuah TV internet al Muttaqin. TV yang berpusat di Malaysia. Intensitas dakwah yang begitu padat dan hubungan yang akrab dengan kalangan kampus ini merupakan satu hal yang membedakan Abi Ihya’ dengan Ustadz dan para kiai lain ketika itu yang rata-rata menjadikan pesantren sebagai basis utama untuk merintis dakwah.

KH. M. Ihya' Ulumuddin bersama Sayyid Abbas Al-Maliki

KH. M. Ihya' Ulumuddin bersama Sayyid Abbas Al-Maliki

KH. M. Ihya' Ulumuddin bersama Sayyid Abbas Al-Maliki

KH. M. Ihya' Ulumuddin bersama Sayyid Abbas Al-Maliki